Palangka raya // mabestv.com – Kepedulian terhadap keselamatan personel kembali ditunjukkan oleh Kapolri Jenderal Polisi Dr. (H.C.) Suyudi Ario Seto, S.H., S.I.K., M.Si., dengan memberikan dukungan langsung kepada Iptu M. Agus Setiawan, Kanit Patroli Samapta Polresta Palangka Raya, yang mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) hingga kehilangan suara akibat paparan asap saat menjalankan tugas memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). (22/10/2026)
Melalui sambungan telepon, Kapolri menyampaikan apresiasi atas dedikasi dan semangat pengabdian Iptu Agus beserta seluruh personel yang berjibaku di lapangan untuk mengendalikan kebakaran hutan dan lahan. Di tengah kondisi lingkungan yang dipenuhi asap, para personel tetap berupaya menjalankan tugas demi melindungi masyarakat dan mencegah dampak karhutla semakin meluas.
Namun, di balik semangat pengabdian tersebut, terdapat risiko kesehatan serius yang tidak boleh diabaikan. Paparan asap karhutla dapat mengganggu sistem pernapasan, terlebih bagi personel yang harus bekerja dalam waktu lama di sekitar lokasi kebakaran.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kondisi yang dialami Iptu Agus menjadi pengingat bahwa perjuangan di lapangan tidak hanya menuntut keberanian dan ketangguhan, tetapi juga perlindungan kesehatan serta keselamatan personel.
Kapolri Apresiasi Dedikasi Personel, Ingatkan Pentingnya Kesehatan
Dalam komunikasi tersebut, Kapolri mengungkapkan rasa bangganya terhadap semangat Iptu Agus yang tetap menunjukkan kepedulian terhadap tugas meskipun kondisi fisiknya sedang terganggu.
Kapolri juga mengingatkan agar Iptu Agus tidak memaksakan diri dan segera mendapatkan penanganan medis apabila kondisi kesehatannya memburuk.
“Saya sebagai Kapolri, ikut bangga. Anda punya semangat yang luar biasa. Semoga ini menjadi ibadah dan juga tentunya akan membawa perubahan, terutama dalam memadamkan api di sana. Tapi tetap jaga kesehatan ya Pak ya, itu yang pertama. Kalau Bapak merasa sudah agak berat, jangan sampai terlambat datang ke rumah sakit untuk juga berobat ya,” tutur Kapolri.
Pesan tersebut menegaskan bahwa penghargaan terhadap dedikasi anggota harus berjalan beriringan dengan perhatian terhadap kesehatan dan keselamatan mereka.
Bagi personel yang bertugas di lokasi karhutla, menjaga kondisi fisik bukan sekadar kebutuhan pribadi, melainkan bagian penting dari kesiapan menjalankan tugas secara profesional.
Dokter Sarankan Istirahat, Semangat Pengabdian Tetap Tinggi
Meski dokter telah merekomendasikan istirahat selama satu minggu, Iptu M. Agus Setiawan mengaku masih ingin membantu rekan-rekannya dalam penanganan karhutla selama kondisi fisiknya memungkinkan.
Sikap tersebut mencerminkan semangat solidaritas dan tanggung jawab yang tinggi di kalangan personel kepolisian. Namun, keinginan untuk terus mengabdi tetap perlu mempertimbangkan rekomendasi medis agar kondisi kesehatan tidak semakin memburuk.
Dalam situasi seperti ini, pemulihan kesehatan merupakan bagian dari tanggung jawab terhadap diri sendiri, rekan kerja, dan institusi. Personel yang sehat dan siap secara fisik akan lebih mampu menjalankan tugas secara efektif serta meminimalkan risiko kecelakaan maupun gangguan kesehatan saat bertugas.
Karena itu, dukungan terhadap personel yang terdampak asap perlu diwujudkan melalui pemantauan kesehatan, penanganan medis yang tepat, penggunaan alat pelindung diri sesuai standar, serta pengaturan tugas dan waktu istirahat yang memadai.
Karhutla Bukan Hanya Ancaman Lingkungan, tetapi Juga Keselamatan Petugas
Penanganan karhutla merupakan tugas berisiko tinggi yang membutuhkan kesiapan personel, peralatan memadai, koordinasi lintas instansi, dan perlindungan kesehatan yang serius.
Selain mengancam lingkungan, kebakaran hutan dan lahan juga menimbulkan persoalan kesehatan akibat asap yang dapat mengganggu aktivitas masyarakat serta membahayakan petugas yang berada di garis depan pemadaman.
Pengalaman Iptu Agus menunjukkan bahwa keberhasilan penanganan karhutla tidak semestinya hanya diukur dari luas lahan yang berhasil dipadamkan atau cepatnya api dikendalikan. Keselamatan personel yang menjalankan tugas juga harus menjadi bagian penting dari evaluasi dan penentuan langkah penanganan.
Semangat pengabdian memang patut diapresiasi, tetapi pengorbanan anggota tidak boleh membuat risiko kesehatan dianggap sebagai hal biasa. Perlindungan terhadap personel harus menjadi prioritas agar tugas kemanusiaan dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Editor : Redaksi
Sumber Berita: Divisi Humas Polri















