Prabowo Targetkan Kredit Rakyat Rp400 Triliun, 28 Juta Keluarga Diharapkan Terima Manfaat

- Penulis

Kamis, 22 Oktober 2026 - 10:42 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta // mabestv.com – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menegaskan komitmen pemerintah untuk memperluas akses keuangan bagi masyarakat, khususnya petani, nelayan, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta keluarga berpenghasilan rendah. Pemerintah menargetkan penyaluran kredit untuk rakyat mencapai Rp400 triliun pada tahun mendatang, dengan sasaran sekitar 28 juta keluarga penerima manfaat.

Penegasan tersebut disampaikan Presiden Prabowo saat membuka Rapat Koordinasi Nasional Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (Rakornas TPAKD) Tahun 2026 di JIExpo Convention Centre, Kemayoran, Jakarta, Kamis (22/10/2026).

Dalam agenda tersebut, Presiden menyoroti pentingnya memperluas akses pembiayaan yang tidak hanya berorientasi pada angka penyaluran kredit, tetapi juga memberikan dampak nyata terhadap pertumbuhan usaha dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Berdasarkan paparan yang disampaikan, penyaluran kredit untuk rakyat telah mencapai sekitar Rp53 triliun dengan dua juta penerima manfaat. Pemerintah berupaya meningkatkan capaian tersebut secara signifikan agar semakin banyak masyarakat memperoleh kesempatan mengembangkan usaha dan memperkuat kondisi ekonomi keluarga.

TPAKD Jadi Ujung Tombak Pemerataan Akses Keuangan

Presiden Prabowo mengapresiasi terbentuknya Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) di seluruh provinsi, kabupaten, dan kota di Indonesia pada akhir 2024.

Keberadaan TPAKD dinilai menjadi fondasi penting untuk memperluas inklusi keuangan hingga ke daerah pelosok. Melalui koordinasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Bank Indonesia, akses masyarakat terhadap layanan keuangan diharapkan semakin terbuka.

Namun, pemerataan akses keuangan tidak cukup hanya ditandai dengan terbentuknya kelembagaan di setiap daerah. Tantangan berikutnya adalah memastikan masyarakat yang selama ini kesulitan mendapatkan pembiayaan benar-benar dapat mengakses layanan keuangan yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan mereka.

Petani membutuhkan pembiayaan untuk meningkatkan produktivitas, nelayan memerlukan dukungan modal dan peralatan, sedangkan pelaku UMKM membutuhkan akses permodalan agar usahanya dapat bertahan dan berkembang.

Karena itu, efektivitas TPAKD perlu diukur melalui hasil nyata di lapangan, termasuk kemudahan akses kredit, ketepatan sasaran penerima, keberlanjutan usaha, serta kemampuan masyarakat meningkatkan pendapatan.

Target Rp400 Triliun, Pengawasan dan Ketepatan Sasaran Jadi Kunci

Target penyaluran kredit sebesar Rp400 triliun kepada sekitar 28 juta keluarga menjadi salah satu perhatian utama dalam agenda perluasan akses keuangan nasional.

Target tersebut membuka peluang bagi masyarakat untuk mendapatkan dukungan pembiayaan yang lebih luas. Meski demikian, peningkatan penyaluran kredit harus disertai tata kelola yang baik, transparansi, dan pengawasan agar manfaatnya benar-benar dirasakan kelompok masyarakat yang membutuhkan.

Pemerintah dan lembaga keuangan juga perlu memastikan bahwa akses pembiayaan tidak justru menambah beban masyarakat akibat persyaratan yang sulit dipenuhi, biaya yang tidak dipahami, atau kewajiban pembayaran yang tidak sebanding dengan kemampuan usaha.

Dengan demikian, keberhasilan program tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya nilai kredit yang disalurkan, tetapi juga oleh kualitas pembiayaan, ketahanan usaha penerima manfaat, dan dampaknya terhadap kesejahteraan keluarga.

Prabowo Tekankan Penertiban Konsesi dan Penjagaan Kekayaan Negara

Selain membahas akses keuangan, Presiden Prabowo menegaskan pentingnya menjaga kekayaan nasional dan menertibkan konsesi yang tidak produktif.

Presiden juga menyoroti perlunya pengawasan yang lebih kuat terhadap berbagai bentuk pelanggaran agar potensi ekonomi Indonesia dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat.

Baca Juga:  Prabowo Kumpulkan Menteri, Bahas Penyesuaian Kebijakan Ekonomi dan Energi Nasional

Pesan tersebut menempatkan pengelolaan sumber daya nasional sebagai bagian penting dari agenda pembangunan. Kekayaan alam dan aset strategis negara, menurut arah kebijakan yang disampaikan, harus dikelola dengan memperhatikan kepentingan publik serta kontribusinya terhadap kesejahteraan masyarakat.

Target tersebut membuka peluang bagi masyarakat untuk mendapatkan dukungan pembiayaan yang lebih luas. Meski demikian, peningkatan penyaluran kredit harus disertai tata kelola yang baik, transparansi, dan pengawasan agar manfaatnya benar-benar dirasakan kelompok masyarakat yang membutuhkan.

Pemerintah dan lembaga keuangan juga perlu memastikan bahwa akses pembiayaan tidak justru menambah beban masyarakat akibat persyaratan yang sulit dipenuhi, biaya yang tidak dipahami, atau kewajiban pembayaran yang tidak sebanding dengan kemampuan usaha.

Dengan demikian, keberhasilan program tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya nilai kredit yang disalurkan, tetapi juga oleh kualitas pembiayaan, ketahanan usaha penerima manfaat, dan dampaknya terhadap kesejahteraan keluarga.

Prabowo Tekankan Penertiban Konsesi dan Penjagaan Kekayaan Negara

Selain membahas akses keuangan, Presiden Prabowo menegaskan pentingnya menjaga kekayaan nasional dan menertibkan konsesi yang tidak produktif.

Presiden juga menyoroti perlunya pengawasan yang lebih kuat terhadap berbagai bentuk pelanggaran agar potensi ekonomi Indonesia dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat.

Pesan tersebut menempatkan pengelolaan sumber daya nasional sebagai bagian penting dari agenda pembangunan. Kekayaan alam dan aset strategis negara, menurut arah kebijakan yang disampaikan, harus dikelola dengan memperhatikan kepentingan publik serta kontribusinya terhadap kesejahteraan masyarakat.

Penertiban konsesi dan pengawasan pelanggaran perlu dijalankan secara transparan, berdasarkan ketentuan hukum, serta disertai pertanggungjawaban yang jelas. Langkah tersebut penting agar kebijakan pengelolaan kekayaan negara tidak berhenti pada pernyataan, tetapi menghasilkan perbaikan nyata dalam tata kelola.

Efisiensi BUMN dan Optimalisasi Aset Negara

Presiden juga mendorong peningkatan efisiensi badan usaha milik negara (BUMN) serta optimalisasi aset negara agar pengelolaannya memberikan manfaat nyata bagi rakyat.

Arah kebijakan tersebut dikaitkan dengan amanat Pasal 33 dan Pasal 34 UUD 1945, yang antara lain mengatur perekonomian nasional, penguasaan negara atas cabang produksi penting dan sumber daya alam, serta tanggung jawab negara terhadap kesejahteraan sosial.

Dalam pelaksanaannya, optimalisasi aset negara membutuhkan pengelolaan profesional, pengawasan yang efektif, dan transparansi agar aset publik dapat memberikan nilai tambah bagi perekonomian.

Efisiensi BUMN juga perlu dilihat dari kemampuan perusahaan meningkatkan kinerja, menjaga akuntabilitas, serta memberikan kontribusi yang sejalan dengan kepentingan negara dan masyarakat.

Dengan pengelolaan yang tepat, aset negara diharapkan tidak hanya menjadi sumber penerimaan, tetapi juga menjadi instrumen untuk memperkuat pembangunan dan membuka kesempatan ekonomi yang lebih luas.

Dewan Nasional Kesejahteraan Keuangan Resmi Dibentuk

Dalam kesempatan yang sama, Presiden Prabowo menyampaikan ucapan selamat Hari Santri Nasional 2026 sekaligus meresmikan pembentukan Dewan Nasional Kesejahteraan Keuangan.

Pembentukan dewan tersebut menjadi bagian dari agenda yang disampaikan dalam Rakornas TPAKD 2026. Peran, kewenangan, dan mekanisme kerjanya menjadi aspek penting untuk diperhatikan dalam pelaksanaan kebijakan kesejahteraan keuangan ke depan.

Koordinasi antarlembaga diperlukan agar program perluasan akses keuangan berjalan selaras, tidak tumpang tindih, dan mampu menjangkau kelompok masyarakat yang selama ini menghadapi keterbatasan akses terhadap layanan keuangan formal.

Editor : Redaksi

Sumber Berita: Setkab Republik Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel mabestv.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kapolri Beri Dukungan kepada Personel Polresta Palangka Raya Terserang ISPA Saat Padamkan Karhutla: Dedikasi Tinggi, Kesehatan Tetap Prioritas
Kapolres Nias Turun Langsung Temui Warga, Serap Aspirasi dan Tegaskan Perang terhadap Narkoba
Kapolres Nias Terima Kunjungan Pimpinan Bank Sumut Gunungsitoli, Perkuat Sinergi dan Kemitraan Antarinstansi
Polres Nias Gandeng RRI Gunungsitoli Sosialisasikan Layanan Polisi 110, Masyarakat Diminta Tak Ragu Melapor
Polda Sumut Bongkar Dugaan Judi Online Berjaringan Kamboja di Medan, Lima Orang Ditangkap
Polres Nias Selatan Amankan Pria Berinisial T, 10 Paket Diduga Sabu Disita! Keterkaitan dengan Tiga DPO Didalami
Presiden Prabowo Bahas Rekomendasi DEN: Digitalisasi Bansos, MBG, Hilirisasi, hingga Antisipasi Krisis Pangan Jadi Sorotan
Kapolda Aceh Pimpin Sertijab Wakapolda, Brigjen Pol. Latif Usman Resmi Gantikan Ari Wahyu Widodo
Berita ini 8 kali dibaca
Ukuran Keberhasilan Harus Dirasakan Rakyat : Rakornas TPAKD 2026 menegaskan bahwa perluasan akses keuangan merupakan bagian penting dari upaya mendorong pemerataan ekonomi nasional. Target kredit Rp400 triliun untuk sekitar 28 juta keluarga menjadi agenda besar yang membutuhkan perencanaan matang, pengawasan ketat, dan pelaksanaan yang tepat sasaran. Tantangan sesungguhnya bukan hanya menyalurkan kredit dalam jumlah besar, melainkan memastikan pembiayaan tersebut mampu membantu masyarakat meningkatkan produktivitas, mengembangkan usaha, menciptakan lapangan kerja, dan memperbaiki kesejahteraan keluarga. Pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan lembaga keuangan perlu memastikan bahwa petani, nelayan, pelaku UMKM, serta masyarakat berpenghasilan rendah tidak hanya tercatat sebagai penerima program, tetapi benar-benar memperoleh manfaat yang berkelanjutan. Sebagaimana pesan Presiden Prabowo, akses keuangan bukan sekadar tersedianya pembiayaan. Lebih dari itu, akses keuangan harus membuka kesempatan bagi masyarakat di seluruh pelosok Indonesia untuk tumbuh, mengembangkan usaha, dan meningkatkan kesejahteraan. Pada akhirnya, keberhasilan kebijakan ekonomi harus tercermin dalam kehidupan masyarakat: usaha yang semakin kuat, pendapatan yang meningkat, dan kesempatan yang lebih merata untuk menikmati hasil pembangunan.

Berita Terkait

Kamis, 22 Oktober 2026 - 10:42 WIB

Prabowo Targetkan Kredit Rakyat Rp400 Triliun, 28 Juta Keluarga Diharapkan Terima Manfaat

Kamis, 22 Oktober 2026 - 08:36 WIB

Kapolri Beri Dukungan kepada Personel Polresta Palangka Raya Terserang ISPA Saat Padamkan Karhutla: Dedikasi Tinggi, Kesehatan Tetap Prioritas

Rabu, 21 Oktober 2026 - 13:55 WIB

Kapolres Nias Turun Langsung Temui Warga, Serap Aspirasi dan Tegaskan Perang terhadap Narkoba

Rabu, 21 Oktober 2026 - 12:11 WIB

Kapolres Nias Terima Kunjungan Pimpinan Bank Sumut Gunungsitoli, Perkuat Sinergi dan Kemitraan Antarinstansi

Rabu, 21 Oktober 2026 - 09:33 WIB

Polda Sumut Bongkar Dugaan Judi Online Berjaringan Kamboja di Medan, Lima Orang Ditangkap

Berita Terbaru