Krisis Pengangguran Mengintai Sumut, GMNI Kecam Pencabutan Izin 15 Perusahaan Tanpa Perlindungan Pekerja

- Penulis

Selasa, 31 Maret 2026 - 13:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sumut // mabestv.com — Gelombang ancaman pengangguran massal membayangi Sumatera Utara menyusul pencabutan izin operasional 15 perusahaan oleh pemerintah pusat. Kebijakan yang lahir dari audit Satgas Penertiban Kawasan Hutan pasca banjir besar November 2025 itu menuai kritik keras dari DPD GMNI Sumatera Utara karena dinilai mengabaikan perlindungan hak pekerja. Medan, 31 Maret 2026

Secara konstitusional, hak atas pekerjaan dijamin dalam Pasal 27 ayat (2) UUD 1945. Namun, GMNI menilai implementasi kebijakan negara masih timpang: tegas dalam penindakan, tetapi lemah dalam perlindungan.

Langkah Presiden Prabowo Subianto mencabut izin perusahaan yang terbukti melanggar aturan kehutanan memang diapresiasi sebagai bentuk penegakan hukum dan kepedulian terhadap lingkungan. Namun, kebijakan tersebut dinilai bersifat reaktif dan terlambat, karena negara baru bertindak setelah kerusakan terjadi, bukan mencegah sejak awal melalui pengawasan perizinan yang ketat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Negara tidak boleh hanya hadir saat menghukum, tetapi juga wajib hadir melindungi rakyatnya. Tanpa mitigasi sosial-ekonomi, kebijakan ini berpotensi memicu krisis pengangguran massal,” tegas Wakil Ketua DPD GMNI Sumut, Tama Tarigan.

Pencabutan izin tersebut mencakup 13 Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) seluas lebih dari 800 ribu hektare, serta dua perusahaan sektor tambang dan perkebunan. Sejumlah nama besar turut terdampak, seperti PT Toba Pulp Lestari, PT Gunung Raya Utama Timber, PT Anugerah Rimba Makmur, dan PT Tambang Emas Martabe.

Baca Juga:  Sekolah Rakyat: Dari Akses Menuju Prestasi, Harapan Baru Anak Negeri

Dinas Ketenagakerjaan Sumatera Utara mengingatkan, perusahaan yang tidak lagi beroperasi berpotensi melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dalam jumlah besar. Situasi ini memperbesar risiko lonjakan pengangguran di Sumut, yang berdasarkan data Badan Pusat Statistik per Agustus 2025 sudah mencapai sekitar 448 ribu orang atau 5,32 persen.

Tanpa langkah mitigasi yang jelas, penghentian operasional perusahaan dinilai dapat memperburuk ketimpangan sosial, menekan daya beli masyarakat, hingga mengganggu stabilitas ekonomi daerah.

GMNI menegaskan bahwa pelanggaran lingkungan oleh perusahaan tetap harus ditindak tegas. Namun, penegakan hukum tidak boleh mengorbankan nasib pekerja yang tidak terlibat dalam pelanggaran tersebut.

Dalam pernyataan sikapnya, DPD GMNI Sumatera Utara mendesak pemerintah segera mengambil langkah konkret, di antaranya membentuk Satgas Perlindungan Pekerja Terdampak, menjamin pembayaran pesangon penuh, menyalurkan bantuan sosial darurat, serta mengimplementasikan program Jaminan Kehilangan Pekerjaan.

Selain itu, GMNI juga meminta perusahaan tidak melakukan PHK sepihak dan tetap mengikuti mekanisme hukum sesuai Undang-Undang Ketenagakerjaan. Pemerintah pun didorong untuk segera membuka lapangan kerja baru dan memperbaiki tata kelola perizinan agar lebih preventif ke depan.

Sebagai organisasi yang lahir dari perjuangan rakyat, GMNI menegaskan komitmennya untuk mengawal isu ini hingga tuntas. Mereka mengajak seluruh elemen masyarakat bersatu menjaga keseimbangan antara kelestarian lingkungan dan kesejahteraan pekerja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel mabestv.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Polisi Peduli Pendidikan, Kapolres Nias Selatan Sambangi Pesantren Mutiara Cahaya Qolbu, Santri Diingatkan Bahaya Narkoba dan Judi Online
Dukung Program Prioritas Kapolda Sumut “SI HORAS”, Kapolres Nias Selatan Pimpin Langsung Pengaturan Lalu Lintas Pagi di Teluk Dalam
HUT Ke-75 Humas Polri, Polres Nias Selatan Salurkan Bansos kepada Warga, Wujud Kepedulian Nyata di Tengah Masyarakat
Dukung Pelestarian Warisan Leluhur, Warga Hibahkan Lahan 840 Meter Persegi untuk Pengembangan Situs Budaya Gowe Mado Zega
Kapolres Nias Selatan AKBP Alfian Tri Permadi Serukan Perang terhadap Narkoba dan Ajak Jemaat BKPN Bersatu Jaga Kamtibmas
Julius Giawa Tegaskan Wartawan Wajib Junjung Tinggi Kode Etik Jurnalistik: Utamakan Fakta, Bukan Asumsi!
Kapolres Nias Selatan Turun Langsung Lewat Jumat Keliling, Ajak Warga Perangi Narkoba dan Jaga Kamtibmas
Cekcok Usai Futsal Berujung Tawuran di Teluk Dalam, 30 Pemuda dan 16 Motor Diamankan Polisi
Berita ini 44 kali dibaca
Pencabutan izin perusahaan di Sumatera Utara menjadi dilema antara penegakan hukum lingkungan dan perlindungan tenaga kerja. Tanpa kebijakan mitigasi yang matang, langkah tegas tersebut justru berpotensi memicu krisis pengangguran massal. Negara dituntut hadir secara utuh—tidak hanya menghukum pelanggaran, tetapi juga menjamin masa depan para pekerja.

Berita Terkait

Senin, 19 Oktober 2026 - 15:06 WIB

Polisi Peduli Pendidikan, Kapolres Nias Selatan Sambangi Pesantren Mutiara Cahaya Qolbu, Santri Diingatkan Bahaya Narkoba dan Judi Online

Senin, 19 Oktober 2026 - 14:40 WIB

Dukung Program Prioritas Kapolda Sumut “SI HORAS”, Kapolres Nias Selatan Pimpin Langsung Pengaturan Lalu Lintas Pagi di Teluk Dalam

Senin, 19 Oktober 2026 - 14:14 WIB

HUT Ke-75 Humas Polri, Polres Nias Selatan Salurkan Bansos kepada Warga, Wujud Kepedulian Nyata di Tengah Masyarakat

Senin, 19 Oktober 2026 - 09:37 WIB

Dukung Pelestarian Warisan Leluhur, Warga Hibahkan Lahan 840 Meter Persegi untuk Pengembangan Situs Budaya Gowe Mado Zega

Minggu, 18 Oktober 2026 - 13:38 WIB

Kapolres Nias Selatan AKBP Alfian Tri Permadi Serukan Perang terhadap Narkoba dan Ajak Jemaat BKPN Bersatu Jaga Kamtibmas

Berita Terbaru