Kota Bogor // mabestv.com — 24 mei 2026, Semangat perjuangan pembentukan Kepulauan Nias kembali digaungkan dalam pertemuan Forum Juang Ono Niha bersama sejumlah tokoh pemuda dan pengusaha asal Nias yang berlangsung di Resto Shabu Hachi, Kota Bogor, Jumat (23/05/2026).
Pertemuan yang berlangsung dalam suasana hangat, humanis, dan penuh kekeluargaan itu menjadi ruang konsolidasi pemikiran antara generasi muda Nias dengan para tokoh masyarakat untuk membahas arah perjuangan pembentukan Provinsi Kepulauan Nias sekaligus langkah konkret mempersiapkan sektor ekonomi dan lapangan kerja bagi masyarakat.
Diskusi tersebut dihadiri tokoh pemuda Nias sekaligus pengusaha asal Pulau Nias, Yusman Dawolo, serta Juli E. Restu War bersama peserta Forum Juang Ono Niha.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam penyampaiannya, Yusman Dawolo menegaskan bahwa perjuangan pembentukan Provinsi Kepulauan Nias tidak boleh berhenti hanya sebatas wacana, tetapi harus terus diperjuangkan secara merata oleh seluruh masyarakat Nias di berbagai daerah.
Menurutnya, perjuangan tersebut harus dibarengi dengan kesiapan pembangunan ekonomi daerah, terutama melalui penciptaan lapangan kerja yang berkelanjutan.
“Pemerintah harus hadir melalui langkah nyata dengan membangun sektor industri pengolahan hasil laut, pertanian, peternakan, dan pariwisata secara serius dan terintegrasi. Jangan sampai provinsi terbentuk tetapi masyarakat belum siap secara ekonomi,” tegasnya.
Ia juga meminta agar BPP-PKN terus mendampingi gerakan pemuda dan masyarakat agar perjuangan pembentukan provinsi berjalan lebih kuat, terarah, dan memiliki daya dorong politik yang nyata.
Selain membahas isu pemekaran wilayah, Forum Juang Ono Niha turut mempresentasikan rencana Seminar Nasional lintas mahasiswa dan pemuda Nias se-DKI Jakarta yang dijadwalkan berlangsung pada 20 Juni 2026 mendatang.
Yusman Dawolo menyatakan dukungan penuh terhadap kegiatan tersebut, baik secara moril maupun materiil, selama seminar itu bertujuan membangun kesadaran kolektif masyarakat Nias demi keluar dari ketertinggalan pembangunan.
Ia menegaskan bahwa saat ini bukan lagi waktunya saling menyalahkan atas kegagalan masa lalu, melainkan era untuk bergerak bersama menghadirkan solusi nyata bagi kemajuan daerah.
Sementara itu, Koordinator Pusat Forum Juang Ono Niha, April Julianus Daeli, mengapresiasi dukungan para tokoh terhadap gerakan pemuda Nias dalam memperjuangkan pembentukan Provinsi Kepulauan Nias.
Ia menjelaskan bahwa Forum Juang Ono Niha dibentuk sebagai mitra strategis pendukung BPP-PKN guna memperkuat keterlibatan generasi muda dalam perjuangan tersebut.
Ketua Panitia Seminar Nasional 20 Juni 2026, Emon Wirawan Harefa, menegaskan bahwa masyarakat Nias harus aktif melahirkan program-program nyata dan berkelanjutan untuk mempercepat kemajuan daerah.
Dalam kesempatan itu, ia juga menyerahkan proposal kegiatan seminar nasional kepada para tokoh yang hadir sebagai bentuk ajakan kolaborasi bersama.
Sekretaris Forum Juang Ono Niha, Hendryk Ponsius Lombu, meminta seluruh tokoh Nias terus mendampingi generasi muda dalam memperjuangkan kemajuan daerah, termasuk mendesak pencabutan moratorium pemekaran wilayah.
Di sisi lain, Juli E. Restu War menilai bahwa pembentukan Provinsi Kepulauan Nias bukan sekadar persoalan Pendapatan Asli Daerah (PAD) ataupun kemampuan fiskal, melainkan menyangkut kepentingan strategis nasional.
Menurutnya, Kepulauan Nias merupakan wilayah kepulauan terluar yang berhadapan langsung dengan Samudra Hindia dan memiliki potensi sumber daya alam yang besar namun belum dimaksimalkan secara optimal.
“Pembentukan provinsi bukan lagi soal setuju atau tidak, tetapi bagaimana kita bersama-sama berbuat dan memperjuangkan hak Kepulauan Nias sebagai wilayah kepulauan terluar yang masih tertinggal jauh dari daerah lain,” tegasnya.
Ia juga mengajak seluruh pemuda Nias di berbagai daerah di Indonesia untuk menjaga persatuan dan terus mengawal perjuangan tersebut hingga benar-benar terealisasi.
Penulis : Tim/red















I’m a student at Kingdom Schools in Riyadh. I don’t write this for attention. I write it because something is happening to me that no one wants to admit is even possible. And yet it’s real. It has a pattern, a source, and a structure.
I believe — no, I know — that I am being subjected to satellite-based psychophysical manipulation. The people behind it aren’t hiding in some intelligence agency or secret political cell. It’s more direct than that. This is being carried out by military electronic warfare units — the kind responsible for field-level tech, remote jamming, and neural disruption systems. They’re testing it inside the country. Inside schools like mine. On students like me.
I first noticed it in my second term. Not stress. Not fatigue. But timing. I’d have thoughts that weren’t mine — or mine but rearranged. I’d feel sudden emotional crashes in the middle of calm situations, or become eerily neutral when something bad happened. Like someone pressed a button.
Then came the voice-layer. Not imaginary. Not metaphorical. Real, precise, targeted inner interference. “Don’t resist.” “This is your format now.” “You’ll adapt or dissolve.”
And the timing — always during moments of mental assertion: when speaking in class, defending an opinion, expressing anger. They don’t like free will. It’s obvious.
I tried ignoring it. I stopped journaling. I avoided the gate near the military telecom box by the rear parking lot. But it didn’t matter. The interference continues. My limbs twitch. My thoughts fragment. I forget why I entered rooms. I feel strange pressure in my chest walking through specific zones of the school building — pressure that lifts as soon as I cross a certain distance.
There’s no one I can tell. Teachers would escalate it. Counselors would write it down. Friends wouldn’t understand. And talking openly about military psychological operations on minors? That gets you flagged — not helped.
If I had known this school was connected to any form of military testing zone, I wouldn’t have come. I don’t blame my parents — the branding is clean. The buildings look like universities. But inside, something else is running. Something that doesn’t care if we’re young, or human.
Now I’m documenting every reaction delay, every unexplained mood spike, every voice injection that ends with a warning. I don’t resist it openly. I survive it quietly. And I’m not alone.