Tebo – Jambi // mabestv.com — Kondisi Jalan Padang Lamo kembali memantik sorotan tajam dari masyarakat. Kerusakan yang tak kunjung diperbaiki seolah menjadi potret nyata lemahnya perhatian terhadap infrastruktur vital di Kabupaten Tebo. Jalan tersebut kini “berbicara” lewat lubang menganga, kubangan lumpur, hingga genangan air yang setiap saat mengancam keselamatan pengguna jalan.
Namun di balik kerusakan fisik itu, publik justru melontarkan pertanyaan yang lebih mendasar: di mana peran dan suara wakil rakyat asal Tebo di DPRD Provinsi Jambi?
Kekecewaan warga kian menguat. Mereka menilai para legislator yang duduk di kursi provinsi seharusnya menjadi garda terdepan dalam memperjuangkan kepentingan daerah, termasuk memastikan perbaikan Jalan Padang Lamo masuk dalam prioritas pembangunan. Sayangnya, hingga kini, langkah konkret yang benar-benar dirasakan masyarakat belum juga terlihat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sejumlah nama besar yang selama ini dikenal sebagai representasi Tebo di tingkat provinsi tak luput dari sorotan publik.
Sukandar, mantan Bupati Tebo dua periode yang dinilai sangat memahami kondisi infrastruktur daerah, kini dipertanyakan kontribusinya dalam mendorong penyelesaian persoalan ini.
Mazlan, yang pernah menjabat Ketua DPRD Tebo, juga dianggap memiliki pengalaman dan kapasitas. Namun, Jalan Padang Lamo tetap menjadi “luka lama” yang tak kunjung mendapat penanganan serius.
Eka Madjid Muaz, legislator dengan pengalaman tiga periode di DPRD Provinsi Jambi, diharapkan mampu menghadirkan perubahan nyata. Akan tetapi, masyarakat menilai hasil konkret yang ditunggu belum juga tampak.
Nama-nama lain seperti Suwarno, Mustaharudin, Ansori, hingga KH. Rifa’i—yang selama ini dipercaya rakyat—juga dinilai belum menunjukkan suara lantang yang mampu mendorong percepatan perbaikan jalan tersebut.
Kritik publik bukan tanpa alasan. Kondisi Jalan Padang Lamo saat ini tidak hanya rusak, tetapi juga membahayakan keselamatan dan menghambat roda perekonomian warga. Aktivitas distribusi barang tersendat, mobilitas masyarakat terganggu, dan risiko kecelakaan terus membayangi setiap hari.
“Apakah perjuangan hanya berhenti setelah pemilu?” menjadi pertanyaan yang kini ramai diperbincangkan di tengah masyarakat.
Bagi warga, persoalan ini bukan sekadar jalan rusak. Ini menyangkut komitmen, integritas, dan tanggung jawab wakil rakyat terhadap amanah yang telah diberikan. Mereka menilai suara rakyat seharusnya terus diperjuangkan, bukan hanya menjadi janji saat masa kampanye.
Masyarakat menegaskan, mereka tidak lagi membutuhkan retorika. Yang dibutuhkan saat ini adalah bukti nyata—langkah konkret, dorongan kebijakan, serta keberanian menyuarakan kepentingan daerah di tingkat provinsi.
Jalan Padang Lamo hari ini menjadi pengingat keras bahwa harapan rakyat tidak boleh diabaikan. Jika para wakil rakyat tetap memilih diam, maka publik pun tidak akan lupa—dan penilaian itu akan dibawa hingga momentum politik berikutnya.
Penulis : M. Harefa
Editor : Redaksi














