Medan // mabestv.com — Cahaya lilin menyala di Lapangan Merdeka, Medan, dalam aksi solidaritas untuk mengenang almarhumah Winda Lorenza Gowasa (WLG). Di balik aksi tersebut, keluarga membawa pesan kuat: mereka ingin seluruh persoalan terkait kematian Winda mendapatkan penjelasan secara terbuka, objektif, dan berdasarkan fakta serta bukti.
Kegiatan yang dijadwalkan berlangsung di Lapangan Merdeka, depan Pos Bloc, jumat, (28/08/2026) mulai pukul 18.00 WIB hingga selesai, menjadi simbol dukungan moral sekaligus bentuk desakan agar proses pengungkapan kasus kematian Winda dilakukan secara serius, transparan, objektif, dan berdasarkan fakta serta bukti.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Aksi tersebut juga menjadi ruang bagi keluarga untuk menyampaikan keresahan sekaligus mempertanyakan sejumlah hal yang hingga kini menurut mereka masih belum mendapatkan jawaban yang memuaskan.
Dalam kesempatan tersebut, wartawan mabestv.com, Julius Giawa, mewawancarai salah seorang pihak keluarga, Sehati Halawa, SH. yang turut memberikan penjelasan mengenai maksud dan tujuan aksi.
Sehati menjelaskan bahwa aksi tersebut merupakan bentuk keprihatinan keluarga setelah kurang lebih 26 hari sejak Winda meninggal dunia.
“Ini rasa keprihatinan keluarga yang sudah lebih kurang tiga minggu, hampir satu bulan lamanya. Dua puluh enam hari,” ujar Sehati.
KELUARGA MINTA NEGARA HADIR
Menurut Sehati, keluarga masih mempertanyakan penyebab kematian Winda. Terlebih, keluarga mempertanyakan kesimpulan yang menyebut kematian tersebut sebagai bunuh diri.
Ia menegaskan bahwa keluarga tidak bermaksud menuduh pihak tertentu maupun secara langsung membantah keterangan kepolisian. Namun, keluarga meminta agar seluruh fakta diperiksa kembali secara objektif.
“Keluarga tidak menerima penyebab yang disebut bunuh diri. Kita mempertanyakan. Artinya, permintaan kita, negara harus hadir,” tegasnya.
Menurutnya, negara melalui aparat penegak hukum memiliki kewajiban memberikan penjelasan yang dapat dipertanggungjawabkan kepada keluarga.
“Keluarga harus hadir melalui kepolisian memberikan pemeriksaan yang objektif,” lanjutnya.
Karena itu, keluarga mendorong agar dilakukan otopsi ulang secara independen untuk memastikan penyebab kematian Winda berdasarkan fakta medis dan pemeriksaan forensik.
“Artinya kita juga tidak mengatakan bahwa kita membantah keterangan kepolisian. Tapi alangkah baiknya kalau secara objektif dilakukan otopsi ulang,” ujar Sehati.
KELUARGA SOROTI SEJUMLAH KONDISI PADA TUBUH WINDA
Ketika ditanya mengenai alasan keluarga mempertanyakan penyebab kematian Winda, Sehati menyebut adanya sejumlah kondisi pada tubuh korban yang menurut keluarga masih membutuhkan penjelasan.
Salah satunya adalah jahitan pada bagian leher serta adanya tanda kebiruan di beberapa bagian tubuh.
“Misalnya jahitan di leher. Itu kejanggalannya. Ada beberapa (bagian) biru di beberapa bagian tubuh,” ungkapnya.
Menurut keluarga, berbagai hal tersebut seharusnya dapat dijelaskan secara ilmiah melalui pemeriksaan kedokteran forensik.
“Semua itu terjawab apabila dilakukan otopsi ulang,” katanya.
Meski demikian, kondisi tersebut merupakan hal yang dipertanyakan keluarga dan tidak dapat dijadikan kesimpulan mengenai adanya tindak pidana tanpa pembuktian melalui proses hukum dan pemeriksaan forensik yang sah.
KELUARGA : JANGAN BIARKAN PERTANYAAN MENJADI SPEKULASI
Keluarga berharap proses pengungkapan kematian Winda dilakukan secara terbuka sehingga tidak menimbulkan ruang bagi berkembangnya spekulasi di tengah masyarakat.
Sehati bahkan mempertanyakan apabila komunikasi dan keterbukaan dari aparat justru tidak diberikan kepada keluarga.
“Kalau misalnya teman-teman kepolisian menutup diri dalam hal ini, ada apa?” ujarnya.
Ia menilai, keresahan keluarga merupakan bentuk keluhan masyarakat yang seharusnya mendapatkan jawaban dari negara.
“Bukankah ini keluhan masyarakat yang harus dijawab oleh negara?” tegasnya.
DESAK OTOPSI ULANG SECARA OBJEKTIF
Tuntutan keluarga pada akhirnya bermuara pada satu hal, yakni kepastian mengenai penyebab kematian Winda Lorenza Gowasa.
Keluarga meminta agar otopsi ulang dilakukan secara objektif dan independen sehingga seluruh tanda, luka, maupun kondisi tubuh korban dapat diperiksa dan dijelaskan berdasarkan ilmu kedokteran forensik.
Bagi keluarga, otopsi ulang bukanlah upaya untuk menghakimi pihak tertentu. Sebaliknya, langkah tersebut diharapkan dapat memberikan kepastian hukum dan mengakhiri berbagai pertanyaan yang selama ini menghantui keluarga.
Jika hasil pemeriksaan nantinya menguatkan kesimpulan sebelumnya, maka hal itu juga dapat menjadi jawaban bagi keluarga. Namun apabila ditemukan fakta baru, temuan tersebut tentu harus ditindaklanjuti sesuai ketentuan hukum.
AKSI LILIN MENJADI PESAN MORAL KELUARGA
Nyala lilin di Lapangan Merdeka akhirnya menjadi simbol duka sekaligus perjuangan keluarga untuk mendapatkan kejelasan.
Keluarga berharap aparat penegak hukum membuka ruang komunikasi dan memastikan seluruh proses berjalan transparan serta objektif.
Mereka tidak ingin kematian Winda hanya berhenti sebagai sebuah kesimpulan tanpa penjelasan yang mampu menjawab seluruh pertanyaan keluarga.
Bagi keluarga, keadilan bukan sekadar menemukan siapa yang salah. Keadilan juga berarti memastikan setiap fakta diperiksa, setiap pertanyaan dijawab, dan setiap proses hukum berjalan secara transparan.
Kini, publik menanti langkah aparat penegak hukum dalam merespons aspirasi keluarga.
Negara dituntut hadir bukan hanya ketika persoalan menjadi sorotan publik, tetapi terutama ketika sebuah keluarga membutuhkan kepastian atas kematian orang yang mereka cintai.
Mabestv.com — Informasi Aktual, dan Berimbang Untuk Indonesia.
Penulis : Redaksi














